Dalam sebuah hadis diceritakan bahwa Rasulullah Saw. mengutus Al-Walid bin ‘Uqbah, salah seorang sahabat dari Bani Umar bin Umayyah, dan salah seorang dari bani Abi Mu’ith untuk mengambil zakat kepada Bani Al-Mushtalaq. Ketika kabar ini sampai ke telinga Bani Mushthalaq, mereka sangat gembira. Kemudian mereka keluar kota untuk menemui utusan Rasulullah SAW. Ketika Al-Walid mendengar bahwa mereka keluar kota untuk menemuinya, dia kembali ke Rasulullah Saw (dalam riwayat lain, setan berbisik bahwa mereka ingin mengadakan peperangan). Kemudian dia berkata: Wahai Rasululah Saw. Sesungguhnya Bani Al-Mushthalaq enggan berzakat. Maka Rasulullah Saw amat marah. Tatkala beliau hendak memutuskan untuk menyerang mereka, datang kepadanya utusan Bani Al-Mushthalaq. Kemudian mereka berkata: Wahai Rasulullah Saw. sesungguhnya kami telah tahu bahwa utusanmu telah kembali setelah menempuh setengah perjalan. Kami takut seandainya yang menyebabkan kepulangannya adalah perintah darimu karena kemarahan kepada kami. Sesungguhnya kami berlindung kepada Allah dari murka-Nya dan murka Rasulullah Saw.. Kemudian Allah menurunkan ayat mengenai hal ini : “Wahai orang-orang yang beriman apabila datang kepadamu seorang fasik dengan sebuah berita, maka bertabayyunlah (klarifikasi) sehingga kalian tidak menimpakan musibah pada suatu kaum dengan ketidaktahuan kemudian kalian menyesali dengan apa yang telah kalian lakukan.” (HR. Abu Kuraib dari Ja’far bin Aun dari Musa bin Ubaidah dari Tsabit Maula Ummu Salamah dari Ummu Salamah. Lih. tafsir QS. Al-Hujurat: 6 dalam kitab Tafsir At-Tabari)
Sebuah cerita yang menarik sarat makna dan hikmah. Riwayat ini bagaikan novel penggugah spirit untuk selalu berhati-hati dalam mencerna setiap kabar yang gonjang-ganjing. Penerapannya dalam kehidupan sehari-hari akan menyebabkan keadaan politik yang tengah mengalami keributan reda sedikit demi sedikit. Kedewasan masyarakat lebih terjaga, stabilitas politik lebih mudah diwujudkan, sehingga recovery ekonomi negara dapat lebih cepat dilakukan.
Disamping itu, dalam membina hubungan baik antar anggota masyarakat, Islam memerintahkan umatnya untuk selalu ber-¬husnudzân. Husnudzan atau positive thinking akan menjadi support system terbentuknya struktur masyarakat madani yang berkemajuan. Energi positif dari sikap positif ini akan mengalir di setiap jiwa anggota masyarakat sehingga akan meminimalisir konflik yang tidak diperlukan. Ketiadaan konflik inilah agaknya yang akan memotivator produktivitas masyarakat. Karena tenaga tidak lagi terkuras untuk hal-hal yang tidak berguna melainkan dapat fokus pada apa yang dibutuhkan.
Akan tetapi, husnudzan yang ifrath (berlebihan) bukanlah yang diperintahkan oleh Islam. Bagaimana menurut anda jika ada seseorang yang memergoki maling di beranda rumahnya dengan berbagai perhiasan emas milik istri ditanganya lalu dia diam dan mencoba ber-husnudzân. “Ah…, mungkin dia seperti robinhood! Mencuri harta kemudian dibagikan pada orang-orang miskin. Saya kan belum berinfak tahun ini. Sudah.., biarkan saja pencuri itu kabur.” Seandainya husnudzan seperti ini yang hendak anda amalkan, lupakan segala milik anda, dan persiapkan diri anda dengan berbagai idealisme penerima kesengsaraan.
Islam adalah pionner keadilan. Keadilannya bukan berlandaskan materi, tetapi berdasarkan suatu hal inmateriil yang disematkan oleh Pencipta dalam jiwa setiap hamba. Dia adalah fitrah. Untuk memahaminya, Allah Swt. menurunkan al-Qur’an. Jelaslah bahwa Al-Qur’an merupakan petunjuk dan penjelas bagi manusia ummi dalam menghadapi problem hidupnya. Bahkan apa yang tersembunyi dalam hati setiap diri.
Dari sini maka Islam mensyariatkan tabayyun atau klarifikasi dalam setiap informasi yang kita terima. Allah Swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik dengan membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti (klarifikasi) agar kamu tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum dengan ketidaktahuan yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS. AL-Hujurat: 6)”.
Klarifikasi sumber berita hanya diperuntukkan bagi orang fasik. Yaitu orang yang suka berbuat dosa dan kerusakan. Tetapi siapakah dia? Dapatkah seorang fasik dalam sebuah komunitas diketahui? Psikologi manusia sangat bermacam-macam. Tidak satupun diantara manusia yang memiliki kesamaan. Jika standar ini hanya dipahami dengan logika, maka standar “fasik” yang diberikan Al-Qur’an ini tidak terdefinisi pada diri seseorang dengan baik. Karena cakupannya luas seluas pola pikir yang ada di otak setiap batok kepala manusia. Ya…, karena pola pikir itulah yang nantinya akan mengantarkan seseorang untuk memahami apa itu benar dan salah.
Akan tetapi jika standar ini berdasar pada sinergi antara akal dan hati, maka fasik akan lebih mudah dipahami. Terutama oleh orang-orang yang bersih hatinya. Karena merekalah yang akan dimudahkan oleh Allah untuk memahami fitrahnya.
Problemnya, kita tidak tahu apakah diri kita memiliki hati yang bersih, atau logika yang benar. Dari sini seseorang dituntut kewaspadaannya sehingga bisa selamat dari orang-orang yang fasik. Tentu dengan kewaspadaan yang bersinergi dengan husnudzân. Penerapan kedua hal kontras ini merupakan seni yang sangat elegan. Penerapannya tidak akan sempurna kecuali oleh orang yang memiliki jiwa keadilan dalam dirinya. Apakah adil itu? Jumhur (mayoritas ulama) bersepakat bahwa adil adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya. Artinya seseorang yang adil akan tahu kapan dia harus benar-benar waspada terhadap sebuah informasi yang datang, begitu pula tahu kapan harus ber-husnudzân atau positive thinking. Sehingga kedua hal kontras ini tidak melumpuhkan kemampuannya dalam berinteraksi dengan komunitas disekitarnya. (Red.)


husnudzan itu baik, penting, membiasakan berpikir positif. tapi su’udzan adalah penjagaan. bahkan boleh dibilang, pada saat ini, pada bentuk dunia yang semacam ini, khusnudzan boleh 30 % yang 70 % adalah su’udzan.
yang nggak boleh, su’udzan sama Allah.
salam
Lintang Parahening
Oleh: Lintang Parahening on Mei 31, 2008
at 10:00 am
Mas salam kenal, aku barusan buat Asmaul Husna on line, kalo berkenan mohon dapat di add di linknya http://muslim-indonesia.com silahkan dilihat … semoga materi yang baik ini dapat disebarluaskan
Oleh: noni on Februari 17, 2009
at 3:14 pm