Allah berfirman,“ Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketakwaannya. (Asy-Syams: 8)”. Fujur dan taqwa, keburukan dan kebaikan, atau bisa dikatakan maksiat dan taat. Agaknya dua hal kontras ini merupakan fitrah yang telah Allah sematkan dalam setiap jiwa manusia. Disinilah manusia akan diuji, Fujur atau taqwa yang akan menghiasi kehidupannya.
Semenjak kelahirannya manusia diberikan kemampuan oleh Allah untuk menilai. Penilaian ini akan semakin tepat dan benar seiring pertumbuhannya selaras dengan pengetahuan yang ia dapatkan (lih. Ilmu dan puzzle). Hingga umur “Baligh” menjadi pertanda adanya beban di pundaknya untuk memilih 2 variabel yang Allah ilhamkan. Apakah fujur yang akan dia pilih, ataukah takwa yang akan menjadi jalannya.
Menjatuhkan pilihan ini memang sangat ironis. Disatu sisi setiap diri tentu ingin memberikan yang terbaik untuk jiwanya. Tetapi disisi lain, semua orang pasti akan menjauhi segala yang menyusahkan hidupnya. Padahal, seluruh kebaikan membutuhkan susah payah dan perjuangan. Sebaliknya keburukkan, mampu didapatkan dengan leha-leha.
Berapa kali Thomas Alfa Edison mengalami kegagalan hingga pada akhirnya bisa menemukan lampu. Atau seperti perkataan Soichiro Honda “Yang dilihat orang pada kesuksesan saya hanya 1 %, tetapi apa yang tidak mereka lihat adalah 99 %, yaitu kegagalan-kegagalan saya”.
Lihatlah umat Islam diawal masa dakwahnya. Hujatan, cacian, bahkan penghinaan banyak diterima oleh mereka. Bahkan kadang nyawa yang menjadi jaminannya. Di tengah-tengah kesusahan dan kesukaran ini, mereka terus bergerak dan bergerak, melangkah tertatih-tatih sembari jatuh dan bangun. Hingga pada akhirnya agama ini tersebar dan memusnahkan kejahiliyahan umat manusia.
Mereka inilah golongan pemberani, para manusia yang mau berusaha, bergerak, melakukan perubahan, gagal, jatuh, bangun, dan berhasil. Merekalah orang yang mau memilih dan sadar akan konsekuensi. Memilih sebuah pendakian yang sukar, sebuah perjalanan yang melelahkan, sehingga pada suatu saat mereka akan mendapatkan kebaikan atas apa yang mereka usahakan. “Seorang manusia tidak akan memperoleh kecuali apa yang telah ia usahakan. Dan sesungguhanya usaha itu akan diperlihatkan (kepadanya) kelak. Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna”. (QS. An-Najm: 39-41).
“Sesungguhnya kami menunjukinya sebuah jalan, ada yang bersyukur ada pula yang kafir (ingkar).” (QS. Al-Insan: 3) Maka bersyukurlah dengan menjadikan kebaikan, taat, dan takwa sebagai pilihan.

